Senin, 04 Februari 2013

Kuratorial Akbar dalam Pameran yang Berjejak yang Berotodidak 2010



Dari Seni Rupa Sanggar Sampai Seni Rupa ‘Klangenan’; Jejak-jejak Para Pelukis ‘Swa Pengalaman’ (Autodidak)


“Kami tak bermaksud menjual lukisan. Atau berpamrih hidup dari melukis. Obsesi kami cuma ingin melukis, dan hidup untuk melukis. Kami hanya ingin eksistensi kami yang kebetulan bergerak di bidang seni lukis, diakui dan diapresiasi masyarakat. Lebih khusus masyarakat lingkungan kamu di Batu,”
(Vita Suparno, Kompas 26 Juli 1992, Pameran Lukisan Bersebelas: Belajar dari Batu, hal.10)

Berangkat dari pengertian antara fine art dan visual art, yang diungkapkan oleh kritisi Sanento Yuliman (1941-1992) dalam membaca kesimpangsiuran gagasan seni rupa di Indonesia pada era 1970-80 an,  sekiranya sejarah seni rupa bisa dibaca sebagai sejarah gagasan terhadap tanggapan-tanggapan arus modernisme (kemutakhiran) yang hadir di Indonesia. Tanpa perlu melanjutkan keniscayaan dikotomi, apalagi dahaga (oposisi) berhierarki yang nisbi, terhadap pengertian fine art dan visual art, sesungguh nya seni yang turun menurun (visual art) adalah tanggapan-tanggapan terhadap kehadiran seni modern (fine art), yang sekaligus juga adalah usaha merumuskan modernisme Indonesia.  Ungkapan-ungkapan S.Sudjojono sebenarnya adalah tanggapan-tanggapan terhadap arus modernisme yang diusung oleh kolonial Belanda. Alih-alih gagasan modernisme S.Sudjojono yang tidak ingin diimla oleh kolonial Belanda, seperti halnya yang ditamsilkan oleh Taman Siswa sebagai tanggapan terhadap sistem pendidikan kolonial Belanda, adalah usaha merumuskan modernisme nya sendiri sebagai cita-cita kemerdekaan dan nasionalisme bangsa Indonesia. Pameran Persagi (Persatuan Ahli-ahli Gambar Indonesia) di Kunstkring Jakarta (1938)  yang itanggapi oleh J.Hopman beberapa tahun kemudian (1947), dengan maklumat bahwa seni lukis Indonesia belum ada, dan untuk sementara waktu ia juga tidak akan ada, semata-mata adalah dalih kaum kolonial untuk mengkuhkan dirinya sebagai pemegang kendali gagasan-gagasan modernisme yang berlangsung di Indonesia.

Modernisme oleh S.Sudjojono adalah tanggapan terhadap para pelukis mooi Indie (Hindia yang jelita), yang jauh dari kemaujudan masyarakat Indonesia masa itu. Para pelukis mooi Indie adalah para pelukis akademis yang mengandalkan kekuatan teknis, karena berangkat dari kebutuhan jawatan-jawatan kolonial akan citra fotografis landscape (kantong-kantong) bagi keperluan dokumentasi ekonomi perkebunan, yang sekaligus juga  adalah pemiuhan (distorsi) terhadap kondisi desa-desa di Jawa sebagai basis pergolakan ekonomi perkebunan kolonial yang dicitrakan sebagai maujud yang indah dan damai. Kecendrungan lukisan mooi Indie pada maujud yang indah dan damai inilah yang kemudian menjadi dialek ‘melayani para turis’ sebagai ideologi kelanjutannya di masa S.Sudjojono.

Perdebatan S.Sudjojono dan J.Hopman sesungguhnya bisa ditafsirkan sebagai visual art dan fine art, atau jika gagasan yang ditawarkan oleh Sanento Yuliman tentang makna seni rupa ini anggap terlalu muluk-muluk, mungkin bisa diganti pada yang mungkin lebih maujud, yakni seni lukis sanggar sebagai visual art dan seni lukis akademis sebagai fine art. Setidaknya perdebatan S.Sudjojono dengan J.Hopman berangkat dari situasi kolonial, beserta sisa-sisa nya yang masih hinggap di era 1947 an. Seni lukis sanggar yang secara tegas hadir pada masa Persagi di tahun 1938 karena tanggapannya terhadap lukisan kolonial (mooi Indie), atau bahkan masa sebelumnya pada kelahiran Taman Siswa (1922) adalah semangat perkumpulan untuk mencapai cita-cita Indonesia Merdeka. Pergulatan S.Sudjojono dengan para pelukis mooi Indie macam Abdullah Suryo Subroto adalah perpanjangan dari tanggapan seni lukis sanggar terhadap para pelukis akademis.

Pergulatan Tentang Tafsir Modernisme Indonesia; Kelanjutan Seni Lukis Sanggar dan Seni Lukis Akademis
Pada masa setelah kemerdekaan (1945) semangat seni lukis sanggar malah tumbuh subur sebagai wadah yang hadir dalam mewarnai jati diri (identitas) kebudayaan nasional. Pada lazim nya, paska kemerdekaan hampir semua pelukis di Indonesia memiliki organisasi atau sanggarnya masing-masing. Namun masih menyisakan pergulatan di masa sebelum kemerdekaan yang bergeser dalam menentukan jati diri kebudayaan nasional. Perdebatan seni lukis sanggar dan seni lukis akademis sebenarnya masih berlanjut yang, satu diantaranya diterjemahkan pada pada tahun 1954, oleh Trisno Sumardjo yang menganggap pameran lukisan mahasiswa Akademi Seni Rupa Bandung, sebagai ‘Bandung Mengabdi Laboratorium Barat’.

Pada dasarnya seni lukis sanggar bukan mengandaikan tidak adanya kaidah akademis dalam cita-cita berkaryanya. Seni lukis sanggar dalam ‘kedisanaannya’ adalah semangat modernisme yang berpijak pada perihal-perihal warisan kebudayaan turun menurun (tradisional) bangsa Indonesia. Dua tamsil yang bisa diambil dalam mengimba seni lukis sanggar dan seni lukis akademis adalah Rusli dan Basoeki Abullah. Rusli memiliki pengalaman akademis selama 6 tahun di Universitas Kala Bhavana Santiniketan India, dan selama 10 tahun ia mengajar seni lukis di Taman Siswa Yogyakarta. Sedangkan Basoeki Abdullah pada tahun 1933 memperoleh beasiswa untuk belajar di Akademik Seni Rupa (Academie Voor Beeldende Kunsten) di Den Haag Belanda. Penanda antara seni lukis sanggar dan seni lukis akademis pada dasarnya adalah tentang perbedaan tafsir modernisme, yang secara politik diantara keduanya memiliki cara pandang berbeda dalam menanggapi kolonialisme di Indonesia.

Pijakan modernidme bagi S.Sudjojono sendiri adalah seni rupa yang tidak mengandaikan kemampuan teknis, alih-alihnya adalah ‘jiwa yang nampak’, sedangkan moral berkesenian S.Sudjojono adalah ‘mencipta’ itu sendiri. ‘Kedisanaan’ S.Sudjojono adalah tanggapan terhadap paham modernisme kolonial Belanda yang masih bernuansakan romantik (abad 19), yang memposisikan masyarakat Timur sebagai ‘wujud’ (entitas) yang di ‘pedalaman’ (tradisional) kan. Padahal S.Sudjojono sudah mengkritik paham modernisme Eropa lainnya, yakni ketika melihat Picasso menengok ke Afrika, dan van Gogh yang mengengok ke Jepang. Jika kita melirik gagasan seni modernisme Eropa abad ke 20, mereka memang berbondong-bondong melirik insiprasi dari wilayah jajahan (pedalaman). Pelukis Delacroix berhutang pada Maroko, Paul Gaugin dan pembuat film W.F.Murnau ke Tahiti, Henri Matisse ke Persia, teater Timur nya Antonin Artaut dengan Bali, dan lain sebagainya.

Memang, kolonialisme Belanda adalah praktik yang puritan. Dengan mengandalkan kelanggengan kekuasaan basis kekuasaan setempat, yang berasal dari konsepsi Mataram tentang hubungan raja-kawula (tuan tanah), sehingga tidak heran program pendidikan kolonial Belanda bagi kaum pribumi hanya bisa diakses kalangan menengah atas masyarakat Indonesia masa itu. Sehingga tidak mengeherankan pula jika agenda pendidikan kolonial Belanda adalah untuk membentuk pangreh praja (Binnenland Bestur), bagi kebutuhan jawatan-jawatan kolonial sebagai bagian dari program modern ekonomi kolonial di awal abad 20. Tidak heran jika lukisan mooi Indie, kental akan kemampuan teknis melukis, khususnya kemampuan teknis membuat anatomi beserta detail-detail objek yang digambarnya, karena nya pelukis mooi Indie memang berasal dari semangat para pelukis jawatan yang sudah di mulai semenjak Raden Saleh. 

Modernisme seni lukis akademis mungkin bisa terlacak dari program ‘emansipasi’ dan ‘asosiasi’ yang diajukan oleh Snouck Hurgronje kepada kaum pribumi Hindia Belanda di awal abad ke 20. Sebagai bagian dari kebijakan etis dari pihak kolonial, program emansipasi adalah sebuah siasat ketertiban dan keamanan (rust end orde) sosial masyarakat di Hindia Belanda yang mengarahkan kesadaran kaum pribumi agar terputus dari akar tradisinya, sedangkan program asosiasi adalah bertujuan untuk membentuk rasa kedekatan kesadaran kaum pribumi dengan kultur dan peradaban pencerahan barat. Dari praktik program asosiasi dari kebijakan etis kolonial inilah yang kemudian melahirkan para pelukis-pelukis mooi indie, yang berasal dari semangat ‘romantik’ Eropa.

Kelahiran akan seni di Indonesia yakni,  Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) pada 12 Januari 1950 di Yogyakarta, dan di Bandung berdiri Balai Perguruan Tinggi Guru Gambar, pada masa itu tidak mengurangi semangat keberadaan sanggar lukis di Indonesia, setidaknya kehadiran sanggar lukis masih tetap kuat sampai tahun 1965 an.  Kehadiran ASRI tidak bisa dipungkiri membawa arah perubahan seni rupa di Indonesia. Satu diantara perubahan tersebut adalah semangat seni rupa murni (fine art) dan seni rupa terapan yang mulai muncul ketika di mulainya keberadaan akademi seni di Indonesia. Nampaknya semangat para pelukis jawatan di masa kolonial Belanda akan kembali terulang bersamaan dengan kelahiran akademi tersebut.  

Beberapa kelahiran sanggar pada masa setelah kelahiran ASRI memiliki entitas yang berbeda, seperti sanggar Pelukis Indonesia Muda (PIM) pada tahun 1953, dan sanggar Bambu pada tahun 1959, Sanggar Bumi Tarung pada tahun 1961,  yang kesemuanya berasal dari para siswa ASRI Yogyakarta. Sehingga keberadaan sanggar di era akademi seni, membawa ‘kultur’ yang berbeda pada masa sebelumnya. Bahkan beberapa diantara keberadaan sanggar seni lukis memiliki kedekatan politik dengan partai tertentu, sehingga tidak heran dampak keberadaan sanggar yang mulai redup paska tahun 1965, karena situasi transisi kekuasaan politik nasional. Hal ini sedikit dipertegas oleh keterangan Kusnadi yang menyatakan bahwa kelahiran akademi seni juga di dorong oleh suasana hubungan antar sanggar yang tidak selalu nampak harmonis dan cukup terbuka.




Seni Lukis Sanggar dan Pondok Seni Batu
Frasa seni lukis sanggar sendiri bisa diandaikan sebagai cara bimbingan melukis dengan semangat kebersamaan. Menurut Kusnadi tentang sanggar lukis paska kemerdekaan menyatakan bahwa ‘bimbingan melukis dalam sanggar biasanya dituntun oleh masing-masing ketua perkumpulan, baik dalam arti estetis maupun dalam pengarahan cita-cita sanggar. Pembimbingan ini dibantu dalam pelaksanaannya beberapa anggota perkumpulan, yang telah dianggap matang menurut ketua sanggar, yang diserahi memeriksa hasil latihan bersama dengan model yang disediakan. Frase ini setidaknya masih berlaku sampai dengan hari ini yang diungkapkan oleh para pelukis Pondok Seni Batu (Anwar, Tupai, Watoni). Jauh sebelumnya, pada tanggal 26 Juli 1992, sebuah harian nasional menyatat bahwa Pondok Seni Batu yang berpameran bersama di Taman Budaya Jawa Tengah, Solo sebagai satu ‘keluarga’.  Peran-peran pelukis Batu yang memiliki akses terhadap basis pengetahuan (baik akademis maupun otodidak), macam Koeboe Sarawan, Cak Badri, Isa Ansyori, Slamet Hen Kus dan lain sebagainya, dalam ruang komunal Pondok Seni memberikan kontribusi yang cukup produktif dalam mendorong para pelukis yang muda macam Anwar, Tupai, Klemin, Heri Pur, Lukman Hakim.

Adalah Dr.C.van Heycopten Ham, adalah seorang dokter yang juga cukup memberikan dorongan berkarya bagi para pelukis-pelukis di kota Batu. Menurut salah seorang pelopor Pondo Seni Batu, mas Koeboe Sarawan menyatakan, keberadaan van Heycopten cukup penting bagi para pelukis Batu, selain memberikan motivasi, juga membuka jejaringan para pelukis batu untuk bisa belajar lebih jauh tentang seni rupa masa itu, yakni magang pada salah seorang pelukis ternama (satu diantaranya But Muchtar).  Keberadaan Dr.C.van Heycopten Ham, seakan mengingatkan kita akan tamsil seorang Belgia A.J. Payen bagi seorang Raden Saleh, berkat bantuan Pastur Koch SJ, B bagi Basoeki Abdullah, dan mungkin G.P. Adolf bagi Karyono JS di Surabaya (1940 an), bahkan keberadaan Walter Spies dan Rudolf Bonnet bagi modernisme Bali yang melahirkan sanggar Pitamaha (1934).

Semangat sanggar di kota batu bisa dilacak pada sejarah seni lukis di Malang dan Surabaya. Pada tahun 1923 berdiri Lingkaran (Perkumpulan) Raden Saleh di Surabaya yang melahirkan pelukis Joyo Wisastro, Supardi dan Pek Gen (Ie Pik Gan). Di sekitar tahun 1950 an, pelukis Widagdo membuka Pelukis Muda Malang, dan Prabangkara di Surabaya yang dipelopori oleh Soenarto Timoer dan Wiwik Hidayat. Widagdo juga turut serta menukangi lahirnya Sekolah Seni Rupa Malang (1956-1964). Kemudiaan pada tanggl 23 Juni 1975, lahir Sanggar Arti di Malang. Baru kemudian pada tahun 1982, diadakan pameran bersama pelukis Batu yang melahirkan Pondok Seni Batu.

Kultur seni rupa sanggar di Indonesia nampaknya sudah mulai redup di era tahun 1990 an di beberapa kota-kota besar (Yogyakarta, Bandung, Jakarta), seiring dengan masuknya budaya ‘kontemporer’ yang juga turut serta mempengaruhi seni rupa di Indonesia. Kosa kata ‘sanggar seni lukis’, di era tahun 1990 an (atau bahkan semenjak 1980 an), tidak lagi mengandaikan semangat komunal para seniman seperti hal nya di era 1945 an, dan berganti menjadi semacam tempat kursus ‘private’ seni lukis.  Kelahiran ruang seni rupa alternatif macam Cemeti Yogyakarta (1988),  dengan karya seni rupa alternatif pula, menciptakan suasana baru kultur seni rupa di Indonesia yang banyak melahirkan ruang-ruang seni rupa alternatif di beberapa kota di Jawa. Pada era ini, kosa kata yang banyak digunakan adalah ‘komunitas’ sebagai semangat komunal sebagai pengganti semangat ‘sanggar’ di era sebelumnya. Semangat komunal pada ‘komunitas’, sedikit banyak dipengaruhi oleh tradisi seni rupa di wilayah urban (perkotaan). Satu diantara isu estetika yang diusung kelompok seni rupa kontemporer adalah menghapus seni rupa adi luhung (modern art), yang dominan pada dekade sebelumnya.  Setidaknya ‘komunitas’ seni rupa di Indonesia pada dekade ini di sokong oleh dana hibah asing (fund rising)  guna mendorong suburnya wacana seni rupa kontemporer di Indonesia. Sebuah situasi yang tentu berbeda dalam era seni lukis sanggar yang cendrung menggunakan semangat ‘gotong royong’ dalam membangung produktifitas berkarya mereka.

Sesungguhnya karakter komunal merupakan kebudayaan masyarakat Indonesia yang cukup otentik. Pada masa sejarah pra modern Indonesia, yang dikenal sebagai masyarakat yang identik akan kesadaran kepercayaan, mengenal konsepsi mandala sebagai basis kebudayaan masyarakat masa itu. Menurut van Naerssen menilai bahwa mandala itu juga merupakan komunitas para pengrajin, pandai besi, pengecat dan pembuat keramik. Setidaknya semangat dari komunal para seniman tersebutlah yang masih hingga kini dikenal sebagai kultur sanggar seni rupa. Nampaknya kultur sanggar lah yang masih cukup bisa mewakili kesejarahan otentik di Indonesia.

Pondok Seni Batu Hari Ini.
Setidaknya sampai pada tahun 1991 an, media masa cetak nasional (Kompas) masih menyebutkan kota ‘Malang’ sebagai jati diri pelukis yang berasal dari kota Batu yang ditulis oleh Agus Darmawan, ketika mereka (Koeboe Sarawan, Slamet Hendro Kusumo, Anwar, dan lain sebagainya) berpameran di Bentara Budaya 7-17 Maret 1991.  Bahkan jauh sebelumnya, satu diantara pelukis kota Batu yang cukup kondang, Koeboe Sarawan, pada tahun 1983,  berjatidirikan kota Malang dalam sebuah berita harian Kompas. Bisa jadi perihal jati diri ini adalah persoalan swatantra (otonomi) pemerintahan kota Batu yang baru di mulai semenjak tahun 2002. Namun, berdirinya Pondok Seni Batu di tahun 1982 an, bisa dianggap menjadi penanda swatantra seni rupa Batu.

Jati diri ‘Batu’ mungkin baru tercatat secara media nasional, ketika Para pelukis Pondok Seni Batu, berpemeran bersama di Taman Budaya Jawa Tengah, Solo, pada 6-16 Juli 1992. Hari ini, para pelukis Pondok Seni Batu dengan semangat ‘klangenan’ nya diantaranya para pelukis lama macam Anwar, Tupai, Klemin dan Watoni, serta para pelukis Pondok Seni selanjutnya macam
Heri Pur, Lukman Hakim, sampai dengan pelukis pertama kali nya bersama Pondok Seni Batu, Tiok, hadir berpameran bersama dalam tajuk ‘Dari Seni Rupa Sanggar Sampai Seni Rupa ‘Klangenan’; Jejak-jejak Para ‘Swa Pengalaman’ (Autodidak)’. Karakter pameran ini nyaris hampir sama dengan pameran bersama Pondok Seni Batu yang pernah di catat oleh media massa nasional Kompas pada tanggal 26 Juli 1992. Namun beda nya, pameran kali ini diadakan di galeri Raos, galeri yang berada di kota Batu sendiri. Kesamaan karakter tersebut adalah, hadir nya pelukis Anwar, Watoni, Tupai dan Klemin, yang mengingatkan kehadiran pelukis tua, Vita Suparno (Almarhum) ketika berpameran bersama dengan para pelukis muda Pondok Seni masa itu yakni Anwar (27 tahun masa itu) dan Watoni (sekitar 25 an). Kali ini pelukis Anwar dan Watoni memiliki semangat yang sama dengan Vita Suparno, bersama para pelukis muda Pondok Seni, Heri Pur, Lukman Hakim, dan pelukis yang baru pertama kali Tiok.

Para pelukis Pondok Seni Batu kali ini juga memiliki latar sosial yang hampir sama dengan beberapa karakter para pelukis Pondok Seni Batu sebelumnya. Seperti yang diutarakan harian Kompas pada tanggal 26 Juli 1992, pada pameran lukisan Bersebelas, para pelukis Pondok Seni Batu di Taman Budaya Jawa Tengah, Solo menyatakan, ‘Mereka kebanyakan berlatar belakang pendidikan formal umum, misal SMA (sekolah Menengah Atas). Ada yang wiraswasta, ada juga guru, atau sebagai pekerja apa saja. Pendeknya, mereka tidak berangkat dari kesenimanan melainkan dari realitas hidup-dan-bekerja’. Kata ‘...mereka tidak berangkat dari kesenimanan...’ merupakan penanda yang masih hidup hingga hari ini bagi kalangan pelukis Pondok Seni Batu. Sebut saja, Lukman Hakim dan Heri Pur, masing-masing bekerja sebagai pendidik seni di institusi pendidikan formal dan informal, kemudian Tiok, yang berprofesi sebagai serabutan, kemudian Anwar, Watoni, dan Tupai, adalah berprofesi sebagai pekerja ‘pesanan’ sesuai momentum. Dan Klemin yang sedang berusaha menapak sebagai pelukis yang berorientasi pasar.

Sesungguh nya seni lukis sanggar, khususnya para pelukis Pondok Seni Batu, juga tidak lepas dari pergulatan modernitas, bahkan paska modernitas, yang akses pengetahuannya tidak lagi bermuara pada basis akademis. Sebut saja, Watoni, yang memiliki pengalaman akademis pada institut seni di Yogkarta, menyebut Anselm Kiefer sebagai panutan pelukis nya, yang ia peroleh dari bacaan-bacaan di internet, namun karya lukisnya masih bernafaskan ‘genus setempat’ dan tidak larut dengan hiruk pikuk wacana seni rupa dunia di media maya. Kemudian pelukis Tiok, pelukis baru di Pondok Seni yang yang cukup fasih menyebutkan beberapa literatur seni macam Sanento Yuliman, serta pengalaman di Yayasan Cimeti Yogyakarta, serta panutan pelukisnya terhadap Diego Rivera, menghasilkan karya kontemporer yang bisa dianggap generasi baru di Pondok Seni. Karya lukisan Tiok, sudah mulai sadar terhadap penggunaan visual property, sebagai bahan artistik seni rupa ‘kekiniaan’. Begitu hal nya dengan Heri Pur, yang guratan karya nya yang sedikit mengutip gaya melukis Alberto Burri, sebagai sebuah usaha yang cukup mutakhir karena memungkinkan dimasukinya visual property ‘setempat’ (lokal) sebagai bagian artistik. Kemudiaan pelukis Lukman Hakim, yang juga mengenyam pendidikan seni rupa di Surabaya, adalah karya yang cukup konsisten menggunakan gaya kaligrafi sebagai pilihan berkaryanya. Panutan Lukman Hakim terhadap Piet Mondrian cukup memberikan warna terhadap tulisan kaligrafinya yang tidak lagi terpaku pada huruf, namun pada figur-figur alam. Selanjutnya, pelukis Tupai, seorang pelukis yang cukup ‘swa pengalaman’, mungkin satu diantara pelukis yang cukup percaya pada rasa batinnya sendiri, tanpa tendeng aling-aling menggunakan panutan pelukis ternama, karena gagap terhadap akses-akses pengetahuan teks seni rupa. Karya Tupai benar-benar sebuah lampias (eksperisi), yang selalu berganti dan rasa penasaran terhadap warna. Sedangkan Anwar adalah pelukis yang benar-benar lahir dari kemauan, dan sangat orisinil. Karya-karya kolase Anwar adalah penggunaan visual property yang benar-benar berasal dari kesehariannya. Ia Pernah kagum dengan Dede Eri Supria, yang ia kenal dari selembar tabloid bekas secara tidak sengaja.  Yang terakhir adalah Klemin, adalah satu-satunya pelukis pada pameran kali ini yang berasal dari dasar-dasar pematung, citac-cita berkarya Klemin mungkin juga adalah satu-satunya yang paling berbeda dibanding pelukis lainnya pada pameran ini, yakni ia mempercayai seni rupa pasar, sebagai semangat berkarya yang harus mulai dibangun bagi para pelukis Batu. Karya-karya lukisan Klemin sendiri sebenarnya masih berkutat pada persoalan patung secara visual. Walau belum maksimal menterjemahkan gaya patung dalam bahasa kanfas, cukup menarik keberanian Klemin mengeksplorasi kanfas dalam bahasa-bahsa patung (sclupture) 

Beberapa karya mereka yang berpermaran hari ini,  diantaranya masih cukup otentik untuk mewakili kultur masyarakat Batu dalam apresiasi karyanya. Ditengah hingar bingar seni rupa pasar kontemporer, yang mendorong semangat para pelukis untuk berkarya berdasarkan kecendrungan pasar dan para pialang seni, para seniman Pondok Seni ini masih bersemangat berkarya dengan semangat komunal, atau yang biasa mereka kenal sebagai pameran ‘klangenan’. Semangat komunual dalam karya-karya yang berorientasi ‘klangenan’; inilah yang terpenting untuk dibaca sebagai dokumen sosial, dalam pergulatan kekiniaannya terhadap hiruk pikuk teks dalam dunia maya, serta gegap gempita pasar seni rupa kontemporer. Semangat ‘swa pengalaman’ adalah sebuah usaha para pelukis yang coba melepaskan diri dari jalur-jalur seni yang terinstitusikan, selayaknya S.Sudjojono yang mencoba merumuskan modernisme yang tidak dilembagakan (kolonial Belanda), atau Pitamaha di Ubud Bali (1934) yang mengalami proses modernisasi sehingga melahirkan ‘subyek’ baru, dengan adanya pelembagaan kerja-kerja kebudayaan yang melahirkan istilah ‘seniman’ yang tidak ada sebelumnya sepanjang sejarah masyarakat di Bali. Yang disandarkan pada pameran hari ini dalam seni rupa ‘klangenan’, adalah sebagai kelanjutan dari ‘genus setempat’(local genus) dalam sejarah sanggar yang tertera dalam sejarah Seni ukis Indonesia, entah sebagai ‘persilangan’, atau bisa saja ‘kegelisahan’, bahkan ‘kontradiksi’ antara yang ‘visual art’ dan ‘fine art’. Namun yang pasti, seni rupa ‘klangenan’ bukan mengurusi soal pasar... Tabik!

Akbar Yumni
 Pengantar Pameran


       


0 komentar:

Posting Komentar