Sabtu, 05 Januari 2013

Seri Drawing

Judul               : For Market
Media           : pencil on paper
Ukuran                        : a4
Tahun              : 2011

Judul               : Ode to Sudirman
Media              : pencil on paper
Ukuran            : a4
Tahun              : 2011

Jumat, 04 Januari 2013

Karya di Atas Kanvas

Judul : think about tin
Media : mixed media on canvas
Ukuran : 90 x 80 cm
Tahun : 2005



Judul : freedom
Media : mixed media on canvas
Ukuran : 100 x 100 cm
Tahun : 2010




Rabu, 02 Januari 2013

Konsep Instalasi dan Performance Art untuk FSS 2007




Judul                          : Indonesia Death and Disasters
Karya                         : Tiok Nates
Media                         : Instalasi, Performance Art
Tim Artistik               : Romo Pambudi”Bellgombest”
                                      Mupet”Geor”
                                      Jumain”Geor”
                                      Bima Tarzan Lentera
                                      Dan kawan – kawan












Properti Artistik        :
  • Properti Visual: Cat Tembok atau akrilik,Pigora kayu dan kliping Koran,tempayan,gelas kopi,tempat dupa, bunga 7 macam, jajan pasar, dupa,obor,daging sapi  dan iga atau tulang sapi
  • Properti Musik : MP3 Player dan Sound Ruang
Performer                  : Romo Pambudi, Mupet dan Jumain dan tiok


Konsep                       :
Sebuah peradaban baru manusia adalah sebuah keniscayaan yang pasti akan muncul sebagai sebuah perubahan dan pergeseran jaman seiring waktu yang bergerak, entah atas nama developmentalisme ataupun atas nama kebudayaan baru, yang mengiringi kemunculan trend, revolusi , perubahan dalam sebuah tatanan masyarakat tentunya akan meninggalkan korban dan jejak yang sama seperti bencana alam

Pameran Tunggal


Pameran Tunggal

Tema : Apologist tidak sama dengan Jealouse
Lokasi : Rumah Sakit Seni Art Space Malang
Tahun :  2004
Foto suasana pembukaan di pameran tunggal 










LAKU DAN IDE



                JIKA PERBEDAAN ADALAH JODOH
        LANTAS DIMANAKAH LETAK CINTA
        …………………………………………….
        ……………… KARMA DAN JODOH ITU
        SAMA SAJA
        SEBAB CINTA HANYALAH WAKTU

            Kebanyakan dari kita hidup dalam serentetan laku,yang sepintas lalu tampaknya tidak ada hubungannya satu sama lain, laku-laku yang terpisah dan berdiri sendiri-sendiri, yang membawa kepada disintegrasi, kepada frustasi. Itulah suatu masalah yang menyangkut tiap orang di antara kita, karena kita hidup dari laku dan tanpa laku tidak ada hidup,tidak pengalaman, tidak ada pemikiran. Pikiran adalah laku; dan semata-mata mengejar laku pada tataran tertentu dalam kesadaran, yakni yang lahiriah, hanya terjebak dalam laku yang tertuju ke luar tanpa memahami seluruh proses laku itu sendir, tak boleh tidak akan membawa kita kepada frustasi, kepada penderitaan.
            Hidup  merupakan suatu rentetan laku atau suatu proses laku  pada tataran kesadaran yang berlainan. Yaitu, kesadaran tantangan dan respons, yang adalah mengalami, kemudian merumuskan atau memberi nama, dan sesudah  itu mencatat, yakni mengenang. Proses inilah yang dinamakan laku bukan?. Tanpa itu semua tidak akan ada laku.
            Lalu laku menciptakan  si pelaku. Artinya, pelaku lahir karena laku mempunyai hasil, suatu tujuan yang jadi sasaran. Jika tidak hasil dalam laku, maka pelaku itu tidak lah ada; tapi kalau ada suatu tujuan atau hasil yang dijadikan sasaran, maka laku melahirkan pelaku. Jadi pelaku, laku, dan tujuan atau hasil, merupakan satu proses yang menyatu, suatu proses tunggal, yang lahir jika laku itu mempunyai tujuan yang menjadi sasaran. Laku yang menuju ke suatu hasil adalah kemauan. Hasrat untuk mencapai tujuan mendatangkan kemauan, yaitu si pelaku – aku ingin mencapai, aku ingin menulis sebuah buku, aku ingin menjadi kaya, aku ingin melukis lukisan. Kita kenal baik dengan ketiga keadaan ini (walau sering tak menyadarinya): si pelaku, laku dan tujuan. Itulah kehidupan kita sehari-hari.
            Kalau kita memahami laku dalam arti kata-nya yang fudamentil, maka pengertian yang fudamentil itu akan mempengaruhi pula kegiatan lahiriah kita; tapi pertama-tama kita harus memahami sifat hakekatnya laku. Adakah laku itu dilahirkan oleh ide? Apakah kita lebih dulu mempunyai ide dan ber-laku kemudian? Ataukah laku lebih dulu ada dan kemudian, karena laku menciptakan konflik, kita membangun ide di seputarnya? Adakah laku menciptakan si pelaku ataukah si pelaku lebih dulu ada?
            Adalah sangat penting untuk menentukan yang mana lebih dulu ada,. Kalau ide yang lebih dulu ada, maka laku semata-mata hanya menyesuaikan bentuknya terhadap ide itu, dan karenanya itu bukan lagi laku melainkan imitasi, paksaan menurut suatu ide. Penting sekali untuk menyadari hal ini; karena, oleh sebab masyarakat kebanyakan disusun pada tataran intelektuil atau lisan, maka ide itulah yang lebih dulu ada dan  disusul oleh laku. Maka laku menjadi budaknya ide, dan pembentukan ide semata-mata, jelas merugikan laku. Ide melahirkan ide lainnya, dan jika yang ada hanyalah pembiakan ide maka “atagonisme”pun lahirlah, dan kita menjadi berat di atas dengan proses pengidean secara “intelektuil”. Struktur budaya kita sangat intelektuil; kita memupuk intelek dengan mengorbankan setiap factor lainnya dari kehidupan kita dan karena itu pengap oleh “ide-ide”.
            Dapatkah ide benar-benar melahirkan tindakan, ataukah ide semata-mata mengacau pikiran dan dengan demikian membatasi laku?. Kalau laku dipaksa oleh ide, laku tidak akan pernah membebaskan manusia. Jika ide membentuk laku, maka tindakan tidak pernah dapat melahirkan pemecahan terhadap “penderitaan-penderitaan” kita.
* Romo Pambudi, Budayawan              

#
Tulisan room pambudi untuk pameran tunggal tiok