Senin, 07 Januari 2013

Puisi Tiok


EPISODE 1

Ketika saraswati menari
Terhanyut dalam tarian sedih
Melihat anak-anaknya terdampar
Dalam gemilang modernitas yang gagap
Terlukis dalam kaca kaca penuh pesona
Tanpa tahu harus berbuat apa?
Tentang keindahan? (hidup)
Dalam gelombang mimpi-mimpi
Pada anak-anak generasi instant

Jakarta.dibawah kaca-kaca plaza indonesia
Januari 2005




Di dalam kaca-kaca
Aah… banyak sekali pertunjukan di dalamnya
Opera besar tentang pementasan hitam
Yang gelap gagap di tengah lampu-lampu bertebar
Tersesat tanpa jalan
Terjual dalam mimpi-mimpi
Mereka
Dia
Kamu
Dan aku

Jakarta 9 januari





Diantara bunga-bunga
Menabur aroma dan warna
Yang terselip pada bara
Menemukan dirinya
Kosong dan berdebu

Jakarta 10 januari










Ketika aku diatas awanmu
Terbawa angin dan terbang
Hanya terlintas
Ingin melihat dirimu
Dari atas, dari awan-awan
Telah berubahkah dirimu?
Atau
Masihkah tetap dirimu yang dulu

Ketika melintas di langit surabaya,januari 2005






Melihat citramu dari angkasa
Petak sawah dan perkampungan
Sungai-sungai dan percabangan
Bangau-bangau yang turun menjemput diatas tanahmu
Lautan dan bibir pantai
Melihat citramu dari angkasa
Tentang dewi swasembada
Tentang indahnya negeri
Tentang indahnya cerita
Tentang alam yang kaya
Tanpa kita sadar
Tentang cerita
Pada masa yang telah berubah

Dalam kabin pesawat,januari 2005





Fajar merekah di atas jatiasih
Ketika sanghyang kala
Meniupkan hari
Menjalankan waktunya
Ada yang berubah
Dan tak seperti kemaren
Bersama orang-orang yang bergegas

Kebon bengkel studio,bekasi.2005







Pada waktu yang terdalam bersama cita
Bergulung pada ombak berbentur dengan batu
Pada karang-karang
Memecah dan berdesir
Putaran puting beliung
Membawaku pada segenggam waktu
Yang telah berlalu
Dan terdalam bersama cita

Kebon bengkel studio.bekasi 2005





Semalam saat waktuku terjaga
Aku melihatmu
Berlari dan menjauh
Sesaat aku berteriak
Pada kala
Agar ia menghentikan waktu
Agar kau terhenti
Agar aku dapat meraihmu
Untuk satu saat
Di dalam hitunganya

Kebon bengkel studio.bekasi 2005    





Cintaku bermain api
Api bermain cinta
Api dan cinta membakar diriku
Cinta dan api ikut terbakar
Bersamaku bermain cinta
Bercinta pada api
Dan membakar diriku

Cozy studio work.bumi asri 2005












Setapak demi setapak aku terseret
Pada hulu maut
Dalam rajah-rajah pada dinding berbatu
Yang telah tertulis
Tentang takdir
Tentang maut
Tentang nasib
Dan peruntungan
Untuk apakah kita menangis?
Dan untuk apa
Kita tertawa?

Desember 2004

                         



Pada pagimu aku begerak
Mengoyak kabut-kabut putih
Menerobos kumpulan udara-udara dinginmu
Dalam sepi ketika tubuhku terbawa
Menuruti arus hati
Bergejolak mencari

Pada api aku berlindung
Setiap gerak pada setiap nyala
Berkata pada bait – bait syair yang kau dengungkan
Aku melihatmu sebagai ada
Dalam sebuah nilai yang tak tersentuh olehku
Tak pernah aku dapat meraihnya

Pada malamu ketakutanku
Untuk setiap tangis, untuk setiap doa
Berharap untuk kehidupan
Terselimuti gelisah
Tentang Esok
Tentang Lusa
Dan sisa kemarin
Yang masih melekat

Malam beranjak pagi. Malang oktober 2005



Ingin ku mendengar ceritamu
Diluar, tentang hiruk pikuknya dunia
Hai kehidupan..

Malang okt 2005

Cerita tentang pagi


Menari diatas fajarmu
Menabur mimpi di awal hari
Berharap berbenih,tumbuh dan berbuah
Merekah diatas jalan jalan berbatu
Berjalan dan bermimpi lagi
Berharap diatas harapan
Langkahi hari untuk mengerti

Plank plunk kafe. Sept 2005




Apiku menyala di dada kiri
Bintang bersinar dan berpendar
Kurasakan bara dalam hati
Tertawa, sakit, dan menangis
Laksana terbang dalam hidupku
Tanah-tanah retak bergolak
Menenggelamkanku
Bersama waktu
Dan terbakarnya dada kiri

Plank plunk kafe.sept 2005




Malam, ketika aku berfikir tentang waktu
Tentang kejujuran yang beranjak pergi
Menyisir anak-anak sungai
Aku melihat anthurium itu memerah
Ketika kau memberikanya untukku
Angin berdesir memecah bola-bola mimpi
Dan menyudutkan diriku ke tepi
Ketika ku rangkai dengan bait kata,cinta dan waktu
Aku yang terdiam saat kau datang
Terpojok menepi, menepati janji
Pada malam berfikir tentang waktu

Sms untukmu, pada catatan tanggal di bukumu,des 04




Aku ingin melihatmu jujur
Pada senyum di bibir
kawan

Malang 2005

Matahati yang tak pernah bisa melihat kembali
Bersama mengalirnya darahmu di nadiku

Surabaya.2005



Berbicara pada tanah
Dimana kau di lahirkan
Berkawan dengan darah
Dimana kau di persatukan

Aku memberimu waktu
Ketika kau harus berjalan
Aku memberimu api
Ketika kau butuh penerang
Dan aku memberimu nurani
Ketika kau harus merasakan

Dan kaupun tahu
Kemana kau harus melangkah
Berfikirlah !
Merenunglah!
Dan kau pun tahu
apa yang harus kamu lakukan
kawan.

Malang 2005





Aku masih menunggumu
Dalam lingkaran waktu
Kawan.
Karena mimpimu
Adalah juga mimpi diriku
Aku juga percaya
Bahwa lingkaran itu
Akan berakhir
Pada satu titik Pertemuan
Karena aku masih menunggumu
Dalam lingkaran
Kawan

Bumi asri, kamarku 2005






Yah…. Kadangkala dari kita
Harus terbiasa
Menghadapi hal-hal yang biasa
Karena semua
Akan menjadi biasa saja

Bumi asri,kamarku 2005 





Cahayaku tidak pernah ragu
Tuk lari dari matahari
Seperti angan dan mimpiku
Untuk menjelajah duniamu

Aku akan melindungi mimpi
Dimana waktu tak bisa menyentuhnya
Tak juga kubiarkan ia (waktu)
Mengambilnya (dariku)

Aku takkan meraih mimpi itu
Hanya membawanya pergi saja
Dan membuatnya
Bersatu dengan diriku

Jogjakarta.2005

 

                



Senandung pada hari tanpa merindu
Dalam ruang ketika kau terbaca
Pada bait – bait mantra
Tentang mimpi – mimpi yang terbelah
Aku menyentuhmu pada kata
Menusuk dirimu dengan hati dalam rasa
Membangun ruang pada bunga – bunga
Pada putih….
Pada hitam
Juga pada abu – abu mu…
Senandung pada hari tanpa merindu
Terdiam tak terasa membisu
Satu jam telah berlalu…

Malang  2005





Malang, Diantara Wacana dan Gejolak Kaum Mudanya


Sebuah Gerakan Seni Rupa Masyarakat Urban di Malang
Oleh : K. Yulistio. W*



Malang sebuah kota dingin di Jawa Timur yang pada jaman belanda dulu punya sebutan Swiss Van Java, mengisahkan sebagian sejarah silam perjuangan para pejuang tanah air dalam merebutkan kemerdekaan negeri ini. Beberapa saksi sejarah kemerdekaan bangsa ini adalah masih ditemukannya beberapa bangunan serta arsitektur kuno peninggalan belanda pada masa itu, meskipun beberapa bangunan tersebut pada masa sekarang telah berubah fungsi menjadi pusat pertokoan ataupun kantor–kantor pemerintahan. Sesuai dengan kontur tanah yang berbukit–bukit dan memiliki hawa yang cukup sejuk, Malang dikenal sebagai tempat peristirahatan yang cukup tenang, hal ini pun berkembang pada masa sekarang dengan banyak dijumpainya obyek–obyek pariwisata serta tumbuhnya tempat peristirahatan di berbagai sudut kota malang. Selain sebagai kota pariwisata, Malang juga cukup dikenal sebagai kota pendidikan hal ini mengingat dengan hadirnya beberapa Universitas yang tumbuh dan berkembang di sini, yah itulah beberapa gambaran kota Malang tempat aku singgah untuk belajar dan akhirnya aku menetap dan jatuh cinta disini, tapi jangan salah, itu beberapa tahun yang lalu lho!! Kerinduan itu pun muncul saat ini, seolah aku membayangkan malang dengan pohon–pohon besar yang rimbun dan jalan–jalan pagi terselimuti kabut, hawa dingin, kota yang tenang dari hiruk pikuk kendaraan bermotor.
Yah…apa mau dikata, atas nama pembangunan dan waktu yang bergerak, telah merubah sebagian wajah kota ini, pohon-pohon dan ruang terbuka hijau yang sering aku temui 10 tahun yang lalu kini berubah menjadi lahan–lahan komersil atas nama bisnis, dengan dibangunnya Ruko–ruko (Rumah dan Toko) sebagai pusat perbelanjaan dan ekonomi serta berdatangannya para penghuni baru kota ini  seperti aku contohnya , kian merubah suasana kota yang semula tenang dan hijau menjadi kota yang cukup sibuk dengan rutinitas dan lalu-lalang kendaraan bermotor serta laju roda bisnis. Dengan berdatangnya banyak orang yang menetap serta tinggal entah untuk kepentingan pendidikan ataupun bisnis tentunya membawa perubahan yang cukup besar di kota ini, hadirnya masyarakat urban yang sebagian besar adalah kaum muda cukup memberikan warna tersendiri,. Begitupun juga dengan perkembangan atmosfir seni rupa di kota ini banyak hadirnya kelompok–kelompok yang di ilhami dari kaum muda memberikan angin segar serta gejolak dan benturan wacana seni rupa yang terjadi.
Lingkungan kampus yang ikut menghidupi laju gerak seni rupa di Malang
Muncul dan berkembangnya sanggar Minat di kalangan mahasiswa IKIP  Malang yang sekarang berganti nama menjadi Universitas Negeri Malang, saat itu memberikan perubahan wacana seni rupa di Malang yang di dominasi oleh kaum tua tentunya, para kaum muda ini giat melakukan kegiatan seni rupa baik di lingkungan kampusnya ataupun diluar. Bahkan sampai saat ini sanggar Minat tersebut berkembang dan melakukan serangkaian kaderisasi sebagai kelangsungan organisasinya. Di tahun 2001 muncul kelompok studi seni rupa” Lentera” di lingkungan Universitas Muhammadiyah Malang, kelompok ini beranggotakan mahasiswa dari berbagai daerah, mempunyai visi dan misi mengembangkan seni rupa sebagai sebuah ruang dialektika dan beberapa kali melakukan lawatan kegiatan baik berupa pameran maupun kunjungan ke berbagai institusi seni rupa di Jogjakarta, serta pernah pameran “ Indonation “ di beberapa kota  Spanyol dengan Unit Seni Rupa UGM Jogjakarta. Selain melakukan kegiatan seni rupa di luar Malang kelompok tersebut juga membagun gerakan seni rupanya di kota Malang. Hal ini di tunjukan dengan dirintisnya KRAM (Kesenirupaan Rakyat Malang) pada tahun 2002 yang merupakan sebuah wadah komunikasi perupa seluruh malang pada saat itu, bersama dengan kelompok–kelompok seni rupa yang lain di Malang. Kehadiran KRAM sempat membuat heboh masyarakat seni rupa di Malang, mereka menggelar acara bertajuk” Malang KRAM Sehari”. Pada acara tersebut melibatkan berbagai elemen masyarakat untuk terlibat dalam event seni rupa dengan menggelar workshop, diskusi, performance art, dan melukis bersama di halaman parkir alun–alun kota Malang. Tak hanya itu kelompok ini juga ikut merencanakan adanya dialog perupa yang melibatkan kelompok–kelompok  perupa dari luar Malang dalam acara “ Ngopi Bareng Perupa “
Diluar dua komunitas besar  tersebut muncul pula beberapa komunitas seni visual di lingkungan universitas yang lainnya, seperti halnya RPS (Rumpun Seni Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi), Shilluet Art Community Sekolah Tinggi Ilmu Bahasa Malang, SLF (Seni Lukis dan Fotografi Universitas Brawijaya) Sanggar Asma Universitas Widyagama Malang, dan Komunitas Seni Universitas Merdeka Malang, meskipun keberadaan mereka kurang begitu terdengar gaungnya akan tetapi beberapa komunitas ini hidup di lingkungan kampusnya dan menggelar beberapa  kegiatan kesenirupaan di tingkat local.
Kaum muda yang gelisah bergeliat di luar keberadaan institusi kampus
Di ruang yang berbeda dari lingkungan kampus muncul pula beberapa kelompok seni visual dari latar belakang media visual yang berbeda pula seperti halnya muncul kelompok komik “ Badjak Laoet “ kelompok penggiat video art seperti “ Puncak Kreatif “,dan  kelompok “ Kamar Bedah “,  kelompok Performance Art Malang, di wilayah fotografi tercatat pula beberapa kelompok yang masih aktif antara lain Kelompok “Sandal Jepit “yang berdiri pada kisaran tahun 2003 dan beberapa kali menggelar pameran di berbagai galeri serta ruang apresiasi di Malang. Kemudian kelompok KLJ Malang (Kamera Lubang Jarum) juga beberapa kali menggelar acara workshop kamera lubang jarum serta pameran dan mereka juga melakukan pengenalan kamera lubang jarum tersebut di Sekolah Dasar sampai Sekolah Menegah Umum di kota Malang serta mengajak peran aktif siswa dalam kegiatan Hunting maupun pameran yang mereka gelar. Selain kelompok–kelompok diatas adapula kelompok “PORTAL” mereka di lahirkan di lingkungan mahasiswa seni rupa Universitas Negeri Malang yang mencoba membangun interaksinya diluar kampus di luar dari sistem yang terbangun di dalam kampusnya.
Kemunculan ruang wacana yang dialektis dan berkembangnya ruang alternativ
Di wilayah ruang wacana Berdiri kelompok BKJT (Belok Kiri Jalan Terus) yang merupakan sebuah forum berkumpulnya beberapa kelompok seni visual di Malang, mereka juga banyak memperbincangkan isu–isu tentang ruang, identitas dan berbagai diskursus dalam medan visual lainya, beberapa kali kelompok ini menggelar beberapa pameran yang antara lain bertajuk Naisance I, Naisance II dan spasi, ruang [ber]uang, beberapa pameran tersebut melibatkan partisipasi berbagai kelompok seni visual yang tumbuh di malang,banyak pula isu-isu yang beredar dan berkembang sebagai diskursus wacana di awali dari interaksi kelompok ini.
Pada perkembangan selanjutnya  dengan masuknya berbagai wacana  dari luar yang kemudian bergesekan serta menjadi diskursus yang kemudian berkembang di Malang muncul pula beberapa ruang alternative yang sekaligus menjadi ruang apresiasi dari beragam aktifitas seni visual satu contoh adalah ketika di kota–kota lain yang menjadi mainstream seni visual seperti, Jakarta, Bandung, Jogjakarta dan Bali banyak memperbincangkan keberadaan ruang alternative hal ini pun di respon cukup positif oleh beberapa kawan-kawan seniman yang kebetulan tinggal di daerah  Tlogomas – Sengkaling dengan mendirikan ruang bernama Rumah Sakit Seni Art Space dan Insomnium Fotografi, kedua ruang ini mempunyai kedekatan wilayah akan tetapi justru dari hal tersebut beberapa diskursus dan dialektika yang berbeda dilahirkan dari gesekan keduanya, meskipun pada awalnya beberapa dari anggota mereka berada pada lingkungan berkumpul dan “memutar gelas” yang sama . Sementara itu Insomnium yang bergerak di wilayah fotografi dan  riset visual banyak mengusung tema–tema yang cukup “fresh” seperti halnya, identitas, ruang dan anak muda hal ini dapat dilihat dari beberapa kegiatan yang mereka lakukan seperti workshop dan pameran fotogram “Fun In The Darkness“, pameran “No One Knows What It’s Like To Be Me“ yang di selenggarakan di tiga ruang yang berbeda yaitu di Kedai Kebun Jogjakarta, Insomnium Malang dan CCCL Surabaya.
Berbeda dengan Rumah Sakit Seni yang menggulirkan wacana berkesenian dan bermasyarakat menggunakan “ruang” nya sebagai tempat apresiasi kesenian dan kebudayaan yang melibatkan peran aktif masyarakat sekitar lokasi untuk berkenalan dan berinteraksi dengan media–media seni sebagai sebuah ruang gagasan dan apresiasi. Beberapa kali mereka menggelar proyek kesenian seperti halnya “Jagalah Kesenian dan Kebersihan“ yang melibatkan beberapa kelompok pemuda sekitar lokasi untuk melukis di berbagai tempat sampah yang terdapat di daerah tersebut, kemudian beberapa workshop tentang video art, serta menjadi fasilitator beberapa pameran dari kelompok baik itu yang berasal dari malang maupun di luar malang. Lokasi Rumah Sakit Seni terletak di tengah–tengah perumahan warga  dalam hal ini juga merupakan salah satu tujuan dari langkah gerak rumah sakit seni dalam membangun wacana kesenian dan interaksinya dengan masyarakat. Termasuk bagaimana meningkatkan respon masyarakat untuk terbiasa dengan kegiatan kesenian. Hampir setiap kegiatan dari rumah sakit seni selalu melibatkan masyarakat sekitar dan begitupun sebaliknya, warga masyarakat juga merespon dengan baik keberadaan rumah sakit seni.
 Dari sekian fenomena seni rupa yang telah teridentifikasi baik secara komunikasi dan jaringan, tanpa menutup Malang juga masih banyak pelaku seni rupa di wilayah pedesaan yang mengorientasikan seni bagi dirinya secara militan sebagai tradisi dan keyakinan yang belum mampu di komunikasikan dan di dokumentasikan. Untuk yang satu ini juga merupakan entitas penting untuk dikenali sebagai referensi dan mengenali representasi kebudayaan, khususnya dalam kajian seni visual yang ada di Malang.
Malang dan Swiss Van Java,pohon besar di ruang hijau terbuka, hawa sejuk, kabut menyelimuti jalan-jalan, taman bunga dan perkebunan apel menyisahkan sebagian silam wajah kota ini dan apa mau dikata perubahan sudah terjadi seiring bergeraknya jaman dan pergerakan manusia berpindah mencari penghidupan baru mencari ruang-ruang baru, resah bergolak di tengah terpaan laju peradaban, Muncul wajah baru kota bersama lahirnya kaum–kaum muda yang merubah jaman,memberikan warna   kehidupan meninggalkan sejumlah kisah lampau di jaman yang telah lalu. Sekedar sebuah narasi singkat tentang kaum muda yang bergerak , bergeliat dalam ranah seni visual di Malang telah menorehkan sejarah daari wacana – wacana  yang ditawarkan.




* Penulis adalah perupa dan manager operasional Roemah Sakit Seni Art space

Motion Dasar Pemikiran


 Tulisan untuk PAMERAN SENI RUPA “MOTION”  Kelompok LENTERA and Friends 2011
Dasar pemikiran :

Manusia dan pergerakan kebudayaan
Semenjak awal dunia telah melakukan penelusuran hakikat asal usul dari manusia. Seperti mengungkap kotak hitam misteri yang tak pernah ditemukan kunci pembukanya, pemecahan seluk beluk sejarah manusia telah menyita waktu dan pemikiran yang menimbulkan penafsiran bermacam-macam. Masing-masing pemikir atau asumsi umum silih berganti mengajak masyarakat menjadi penganut perspektif tersebut. Diantaranya adalah tiga asumsi besar yang hadir pada masyarakat sebelum jaman pencerahan. Pertama, ada yang berpendapat bahwa pada dasarnya makhluk manusia memang diciptakan beraneka macam atau poligenesis; dan menganggap bahwa orang-orang di Eropa yang berkulit putih merupakan makhluk manusia yang paling baik dan kuat. Oleh karena itu, kebudayaan yang dimilikinya juga paling sempurna dan paling tinggi. Cara berpikir yang kedua adalah yang meyakini bahwa sebenarnya makhluk manusia itu hanya pernah diciptakan sekali saja atau monogenesis; yaitu dari satu makhluk induk dan bahwa semua makhluk manusia di dunia ini merupakan keturunan Adam. Sebagian dari mereka yang punya pandangan ini berpendapat bahwa keanekaragaman makhluk manusia dan kebudayaannya, dari tinggi sampai rendah; sebagai akibat proses kemunduran yang disebabkan oleh dosa abadi yang pernah dilakukan oleh Nabi Adam. Sebaliknya, sebagian lain berpendapat bahwa sebenarnya makhluk manusia dan kebudayaan tidak mengalami proses degenerasi. Akan tetapi apabila pada masa kini terdapat perbedaan, lebih disebabkan oleh tingkat kemajuan mereka yang berbeda.
Kebangkitan kembali terhadap studi kesusastraan dan ilmu pengetahuan Yunani dan Rumawi Klasik yang terjadi pada abad XVI di Eropa atau yang dikenal dengan Renaissance; menimbulkan rasionalisme yang pada akhirnya menyebabkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di Eropa. Pada masa itu, yaitu sampai abad XVIII, Eropa mengalami zaman Aufklarung atau ‘Pencerahan Pencerahan’.Berbagai bidang kajian banyak dilakukan, termasuk upaya untuk meneliti tentang keanekaragaman makhluk manusia dan kebudayaannya di berbagai tempat di muka bumi. Beranekamacam kajian anatomi komparatif yang dilakukan, lebih ditekankan atas dasar keanekaragaman ciri-ciri fisik manusia. Selain itu, ada sebagai para ahli filsafat sosial di masa Aufklarung, mulai mengkaji berbagai bentuk-bentuk masyarakat dan tingkah laku makhluk manusia. Berbagai gejala dan tingkah laku manusia, dicoba untuk dipahami dengan mendasarkan pada kaidah-kaidah alam. Untuk itu metodologi ilmu eksaksta, khususnya biologi, kerapkali dicoba untuk diterapkan untuk mengkaji perilaku manusia. Kesemuanya itu tidak terlepas dari kekaguman mereka terhadap kemajuan ilmu alam dan ilmu pasti yang terjadi pada zaman itu. Beraneka ragam gejala perilaku makhluk manusia dalam kehidupan bermasyarakat, dianalisis secara induktif dengan mencari unsur-unsur persamaan yang ada; kemudian diupayakan dirumuskannya sebagai kaidah-kaidah sosial. Cara berpikir rasional yang akhirnya berkembang menjadi aliran positivisme sangat mewarnai para cendekiawan pada zaman Aufklarung. Mereka percaya bahwa berbagai kaidah tersebut akan dapat dipergunakan untuk mengatur dan merubah suatu masyarakat. Agaknya, pola pikir para cendekiawan masa Aufklarung yang memandang masyarakat dan kebudayaan sebagai suatu kesatuan, Atas dasar itu, melatar belakangi sebuah konsep pemikirannya bahwa pada dasarnya kebudayaan umat manusia adalah berkembang melalui suatu tingkat-tingkat evolusi tertentu.
Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Istilah untuk pendapat itu adalah Cultural-Determinism.Herskovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lain, yang kemudian disebut sebagai superorganic. Menurut Andreas Eppink, kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian nilai sosial,norma sosial, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain, tambahan lagi segala pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat.Menurut Edward Burnett Tylor, kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat.Dari berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian mengenai kebudayaan adalah sesuatu yang akan memengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.
 Sejak pertama kalinya, makhluk yang bercirikan manusia muncul di muka bumi sekitar satu juta tahun yang lalu, yaitu dengan ditemukannya fosil dari makhluk Pithecanthropus Erectus, sampai dengan sekarang ini, telah terjadi berbagai perubahan kebudayaan yang dimilikinya; sementara itu proses evolusi organik makhluk manusia tidak secepat perkembangan kebudayaannya. Oleh karenanya kebudayaan menunjukkan satu sifat khasnya yakni superorganik. Apabila proses evolusi kebudayaan dibandingkan dengan proses evolusi fisik dari makhluk manusia, sampai pada suatu kurun waktu tertentu masih berjalan sejajar. Akan tetapi pada suatu tahap perkembangan tertentu, diduga proses perubahan kebudayaan berjalan amat cepat sekali seolah olah meninggalkan proses evolusi organiknya. Selain disebabkan oleh mekanisme lain seperti munculnya penemuan baru atau invention, difusi dan akulturasi; perubahan suatu lingkungan akan dapat pula mengakibatkan terjadinya perubahan kebudayaan.
Selama perjalanan waktu yang lama, dengan akal yang dimilikinya, makhluk manusia semakin memiliki kemampuan menyempurnakan kebudayaan yang dimilikinya. Setiap kali mereka berupaya menyempurnakan dirinya, maka akan menyebabkan perubahan kebudayaannya. Suatu perubahan kebudayaan dapat berasal dari luar lingkungan pendukung kebudayaan tersebut. Gerak kebudayaan yang telah menimbulkan perubahan dan perkembangan, akhirnya juga menyebabkan terjadinya pertumbuhan; sementara itu tidak tertutup kemungkinan hilangnya unsur-unsur kebudayaan lama sebagai akibat ditemukannya unsur-unsur kebudayaan baru. Dalam rangka studi akulturasi, para ahli antropologi telah lama mencoba untuk memahami terjadinya perbedaan derajat perubahan perkembangan suatu kebudayaan. Sementara itu dalam sejarah perkembangan kebudayaan umat manusia, Childe (1998) berpendapat bahwa ada tiga jenis revolusi terpenting dalam sejarah perkembangan kebudayaan makhluk manusia. Perubahan kebudayaan yang demikian pesat atau lebih dikenal dengan Revolusi Kebudayaan Pertama, terjadi tatkala makhluk manusia yang termasuk Homo Sapiens pada sekitar 80.000 tahun yang lalu, mereka masih hidup dari berburu dan meramu. Kepandaian bercocok tanam baru muncul sekitar sepuluh ribu tahun yang lalu di sekitar daerah pertemuan Sungau Tigris dan Eufrat atau di Lembah Mesopotamia. Setelah ia mengenal sistem pemukiman kota, artinya ia mulai juga bertempat tinggal di kota-kota pada enam ribu tahun yang lalu di Pulau Kreta Yunani, terjadilah suatu Revolusi Kebudayaan kedua; dan setelah itu perkembangan kebudayaan manusia semakin pesat. Akhirnya pada abad XVII di Inggris, terjadi Revolusi Industri, dan oleh Gordon Childe dianggap sebagai Revolusi Kebudayaan ketiga. Setelah Revolusi Industri, makhluk manusia mengenal teknik memproduksi barang secara massal karena tenaga manusia mulai digantikan dengan mesin-mesin yang ditemukan. Sejak itulah, kebudayaan umat manusia semakin tumbuh dengan pesat seolah-olah melepaskan dirinya dari proses evolusi organik atau evolusi biologis makhluk manusia.
Hari ini Manusia dan kebudayaanya dalam perspektif dunia kontemporer sudah demikian pesat pergerakan dan dinamikanya dalam kehidupan social yang terjadi, kita seperti masuk dalam arus putaran air yang saling bergesek, bergerak , berirama dalam arus arus modernitas dan globalisasi, asumsi ini mendasari sebuah pemikiran bahwa setiap individu sebagai sebuah bulir – bulir penggerak kebudayaan sebuah masyarakat tentunya kita memiliki rekaman – rekaman histories , optik maupun gagasan bagaimana dan seperti apa kebudayaan  itu bergerak seiring pergerakan manusia dan jaman yang berubah, dari perspektif dan tafsir individu ini pulalah kita bisa merekam gejala – gejala perubahan dan melahirkan pemikiran ,interaksi serta diskursus baru dalam keanekaragaman wacana dan kebudayaan manusia…” selamat berfikir dan bekerja !!!!

My Studio

Alamat : Jalan Sarimun No. 9 Beji . Kec . Junrejo. 
Kota madya Batu. Jawa Timur

Foto studio pakai foto yg lama aja ya..hehehehehhe


Sabtu, 05 Januari 2013

Project Mural Rumah Sakit Seni - Arsenda


Lokasi : Perumahan Sengkaling Indah 2 ( Lavanda ) Malang
Tema : “ Jagalah Kebersihan dan Kesenian “
Tahun : 2005



[[ Keterangan ]]
Project ini melibatkan beberapa seniman yg merespon beberapa lokasi tempat sampah di perumahan sengkaling indah 2 dengan media mural